Pengabdian adalah hal yang paling menakutkan tapi amat kurindukan.
Memutuskan untuk ikut mengabdi kepada masyarakat terjadi akibat dorongan hati. Tak tergambarkan bagaimana dorongannya, tapi saat mendengar kata-kata yang tidak asing dalam pengabdian, seperti “berbagi, mengajar, kebaikan,” aku merasa ini saatnya.
Setelah kusadari, seiring bertumbuh dewasa, hidup ini tidak lagi memikirkan dirinya sendiri. Banyak hal yang memprihantikan dan akhirnya mengalihkan perhatian kita. Misalnya, kondisi lingkungan hidup, ketidakmerataan kesejahteraan masyarakat, ketertinggalan pendidikan, dan lain-lain.
Sebagai mahasiswa, ada juga pemikiran lain, seperti, “Itung-itung melengkapi poin terakhir Tri Dharma Perguruan Tinggi.”
Mungkin di antara kalian ada yang belum mengetahui atau lupa dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, berikut macamnya
Tri Dharma Perguruan Tinggi
1. Pendidikan dan Pengajaran
2. Penelitian dan pengembangan
3. Pengabdian kepada masyarakat
Memang perlu banyak pertimbangan saat akhirnya mantap untuk menjalankan niat baik ini. Sebab mangabdi bukan hal kecil, perlu kesungguhan hati untuk menjalaninya. Agar apa yang kita abdi bisa menjadi lebih baik dan bermanfaat.
Awal Mengenal Pengabdian
Aku dikenalkan tentang pengabdian kepada masyarakat oleh rekan-rekan sesama mahasiswa. Mereka menceritakan betapa besar dampak mengabdi terhadap kehidupannya. Seperti ada yang membukakan wawasan lain tentang menjalani hidup.
“Bukan cuma itu,” mereka bilang, “Mengabdi juga benar-benar menyenangkan. Seru deh pokoknya.”
Bayangan tentang keseruan mereka gambarkan dengan pergi ke pelosok desa yang disambut perjalanan indah oleh hamparan sawah, dikelilingi gunung, sungai mengalir jernih, banyak hasil kebun, hewan ternak yang diliarkan begitu saja tanpa takut mereka hilang atau dicuri orang, masyarakat yang ramah, dan banyak bocah kecil polos yang menggemaskan.
Dibenakku berpikir, bolehlah kucoba sembari menyegarkan mata dan mengenal orang baru. Akhirnya aku mendaftarkan diri ke program pengabdian masyarakat tersebut di tahun berikutnya. Dan tak disangka, aku bisa diterima dari hasil wawancaranya yang lumayan memojokkanku dengan pertanyaan-pertanyaannya.
Namun, semua hal yang rekan-rekan mahasiswaku katakan tak semuanya benar. Kesulitan benar-benar menimpaku sedari hari pertama.
Ketakutan dan Kesulitan
Pengabdian ini diselenggarakan kampusku, Politeknik Negeri Jakarta, dengan nama kegiatan PNJ Mengabdi 2019. Pagi-pagi buta kami sudah meninggalkan tempat ini yang menjadi titik kumpul. Perjalanan dari kota terlihat biasa saja, sampai saat kita memasuki jalan kecil menuju Desa Gobang, Bogor, Jawa Barat. Membuat kami harus ektrsa hati-hati karena permukaannya yang menanjak dan banyak belokan-belokan curam.
Belum apa-apa aku sudah dibuat kesulitan. Ingin rasanya kembali pulang ke kota di mana semuanya serba mudah, tetapi bukankah memang ini yang harus dihadapi?
Hari pertama menjadi hari paling menyebalkan, setelah kuketahui bahwa di sini sulit mendapatkan air walaupun berada di atas perbukitan. Hewan ternak yang sebelumnya kuanggap akan menjadi pemandangan indah, ternyata membuang kotorannya secara sembarangan. Malam hari menjelang tidur pun tidak tenang, ada banyak nyamuk yang beterbangan di tempat kami tinggal.
Proses adaptasi lingkungan ini kuhadapi setidaknya tiga hari. Sampai akhirnya bisa menerima keadaan sekitar.
Pengabdian ini bergerak di bidang pendidikan, menjadi pengajar adalah tugas utamaku. Ternyata di SDN Gobang 04 ini, perkelasnya tidak terlalu banyak murid. Walaupun masih ada usia anak sebaya lainnya, tetapi mereka belum memulai sekolah. Pengertian bahwa pentingnya pendidikan belum tersampaikan secara luas di sini.
Saat waktu bermain tiba, anak-anak desa ini berkumpul di lapangan sekolah. Yang katanya bocah polos, ternyata tidak jauh berbeda dengan anak-anak biasa di kota. Mereka masih bandel dan susah diatur. Bahkan sempat saja mengerjai pengajarnya dan bersikap kurang sopan.
Semua kesulitan itulah yang harus aku dan pengajar lainnya hadapi selama tujuh belas hari kedepan. Tidak boleh ada yang namanya menyerah terhadap kondisi alam dan masyarakat di dalamnya.
Keakraban
Demi terwujudnya keberhasilan pengabdian ini, pelan-pelan kami mempelajari pola kehidupan di sini. Bagaimana menghadapi anak-anak agar tetap belajar, mendapat perhatian masyarakat, dan ikut serta dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dalam menghadapi hari esok terasa jadi lebih mudah saat semuanya dekat dan saling mengerti.
Namun, setelah menghadapi kesulitan dan menjadi akrab, kami dihadapkan dengan perpisahan. Sulit sekali untuk meninggalkan keluarga baru ini. Meski kami hidup bersama hanya sebentar, tapi kenangannya sangat indah dan berkesan.
Perpisahan
Banyak sekali terima kasih yang ingin kuucapkan kepada mereka murid dan masyarakat Desa Gobang terhadap segala hal yang baru kutemui di sini. Baru aku kenal, baru aku pelajari, baru aku sadari. Namun, hanya isak tangis yang keluar dalam pelukan kami.
Berkali-kali mereka meminta kami, para pengabdi, untuk kembali lagi ke sana, dan berkali-kali pula kami mengiyakan.
Pelajaran
Berkat pengabdian ini, aku lebih mengerti makna pengabdian. Dan juga makna dari istilah “Memanusiakan manusia.”
Bagiku, bersyukur adalah kunci utamanya. Benar sekali kata orang tua, “Jangan melihat ke atas, lihatlah ke bawah,” karena tidak semua kemudahan yang kupunya bisa dirasakan orang lain. Kadang, dengan kemudahan yang sama saja aku masih sempat mengeluh.
Kurasa harus lebih banyak lagi orang yang melek terhadap persoalan tersebut. Agar banyak pula orang yang terbantu dalam mendapatkan kesamarataan di semua bidang kehidupan.
Ini hanya sebagian cerita dari yang kualami selama tujuh belas hari. Kupikir untuk mencari sisanya, harus dimulai dengan mengalaminya sendiri.
(Tulisan ini telah diunggah di Kumparan, pada 10 Mei 2020)

AAKKK jadi pen ke cisadon:(
BalasHapusayok trekking yok
Hapusseru bgtttt kayanyaa huuu syg bgtt gbs ikut pengabdian teruss:(
BalasHapusnanti pasti ada kesempatan lagi
HapusWahh keren banget nih
BalasHapusWahh inspiratif bgt
BalasHapusBagus sangat inspiratif tulisannya
BalasHapusterima kasih kak
Hapusblm sempet ngerasain ngabdi, jadi tergerak mau ikut
BalasHapusasik, ayo lah
HapusHayuk mandi sama cebong:p
BalasHapusahahaha momen yang ga bisa dilupain
HapusKANGEN KUKUK SUMPUNG IH! Kangen tragedi perahu layar wkwkwkwkwkw
BalasHapuswkwkwkwk untung perahu layarnya ga nyebrang ke ruang sebelah
HapusJadi kangen kukuk dan memori di dalamnya
BalasHapussama bangettt
HapusNyanyi lagu satu jari kanan dong kaak:))
BalasHapusWahh pasti seru banget yah,,,
BalasHapuskangen nyemilin dukuh ampe bosen kangen manggul nangka dari kebon kangen ngobrol sambil dapet makanan + kopi gratis dari warga kangen berplosok2 ria lagi
BalasHapuskangen musim duren dan pete ga sih. trs tiap hari makan pisang
HapusSeru banget sih kayaknyaaa
BalasHapuswaa seru banget pasti
BalasHapusSeru banget. Pengen ikut tapi pasti selalu bentrok sama yang lain huhuhhu
BalasHapusKayaknya seru bgt, jadi pengen nyoba
BalasHapusaku mau bangeeeet ikut huhuhuh
BalasHapusseru bgt keknya
BalasHapusKeliatan agak sulit tapi pasti seru banget! Jadi pengen coba
BalasHapusseru banget selalu pengen nyoba ngelakuin hal kyk gitu tapi ga pernah dilakuin :"
BalasHapusSaya juga mengalami bagaimana teman sekeliling saya memperkenalkan pengabdian dengan hanya menjelaskan 'seru' nya saja. Padahal dibalik itu, kita jg harus adaptif dgn perbedaan kondisi di sana. Buat saya, sehari tanpa sinyal saja rasanya sulit sekali. Tapi sesekali pengabdian ini harus saya coba buat pengalaman baru. Namun, mengingat keadaan yg seperti ini mungkin sudah terlambat dan terhambat. Mungkin ada saran kegiatan lain lagi??
BalasHapusSeruuu, udah lama gak main ke alam alam gitu. Semoga pandemi cepet selesai, aamiin!!!
BalasHapusDemi mengundang hasrat orang2 utk ikut berkontribusi, yang diceritakan sekadar 'seru'nya aja. Pdhl dibalik itu semua kita dipaksa adaptif dgn kondisi yg sebenarnya jrg kita rasakan. Spt halnya bagi saya, sehari tanpa sinyal aja hidup udah susah banget. Makanya dari tulisan ini saya mulai bangkit dan tergerak, tapi rasanya utk mengikuti pengabdian sudah terlambat dan terhambat. Mungkin ada saran lain kegiatan semacam pengabdian yang bisa diikuti saat masa pandemi?
BalasHapuspengalaman berharga nihh dan gk bisa di lupakan
BalasHapusSeru bangeeeettt deh pasti
BalasHapusSeru bgt mengabdi ke desa, semoga dpt kesempatan yg sama juga
BalasHapusWah keren bgt nih
BalasHapusih seru banget jadi pengen ikutan
BalasHapusih seeu banget kayanya jadi pengen ikutan
BalasHapuspengalaman yang sangat berharga pastinya, jadi lebih ga sabar buat ikut pengabdian masyarakat seperti ini✊
BalasHapus